[Prompt #124] Pesan Mas Dani

Digital art by Ciryl Rolando

Pesan mas Dani tadi pagi kembali terngiang di telingaku.

Aduh, Mas nggak bisa dateng. Barusan dikabari rapatnya dilanjut liat bakal lokasi kantor cabang baru di luar kota. Nggak boleh diwakilin, jadi harus Mas yang ke sana. Salam buat yang lain. Kasih jamuan yang baik.

Entah sudah berapa kali suamiku tidak datang di acara arisan keluarga besarnya. Awalnya selalu bilang bisa datang. Tapi berubah 180 derajat, sekitar satu atau dua hari sebelum acara. Bahkan bisa juga dibatalkan pada hari-H, seperti hari ini. Alasannya selalu ada, mulai dari yang bagiku masuk akal, sampai alasan konyol. Ke luar kota katanya? Omong kosong!

Aku selalu diam. Selalu menerima semuanya.

Padahal acara kali ini diadakan di rumah kami. Sejak beberapa hari lalu, aku rajin membuka buku kumpulan resep masakan turun-temurun milik keluarganya. Sibuk memilih masakan apa yang akan kuhidangkan. Keluarga mas Dani cukup rewel soal makanan, apalagi di acara arisan keluarga. Harus dari resep keluarga, dan tidak boleh diubah walaupun hanya menambah selembar daun jeruk purut. Ya, bolehlah kalau beli makanan restoran, tapi hidangan utama harus tetap dari resep keluarga.

Aku selalu diam. Selalu menerima semuanya.

Dua hari lalu, mas Dani membantu memutuskan makanan apa yang harus kumasak. Gulai daging, dicampur nangka muda. Lainnya beli aja, begitu anjurannya. Sepulang kerja dan membersihkan diri, dia mengantarku ke supermarket tak jauh dari rumah. Memilih dan membeli ini-itu. Dia yang memilih semuanya. Yang memutuskan harus berapa banyak yang dimasak. Saranku jarang, bahkan hampir tidak pernah didengar.

Aku selalu diam. Selalu menerima semuanya.

Pesan mas Dani terus bergema di telingaku.

Aku membayangkan betapa malunya aku dan Sigit, anak kami. Karena sering tak hadir, keluarga besar sering mencemooh kami. Keluarga kurang harmonis lah, aku dianggap istri yang tidak mengerti suami lah, sampai mas Dani akhirnya jarang kumpul keluarga. Oh, semua itu belum seberapa, dibanding ejekan untuk Sigit, yang disebut nakal dan suka membangkang ayahnya sendiri. Aku ibunya, aku yang tahu kenapa Sigit bisa tak akur dan terlihat jaga jarak dengan ayahnya. Bagaimana Sigit bisa akur, kalau dia pernah memergoki ayahnya memeluk serta mencium perempuan sintal nan menor, yang katanya sekretarisnya itu? Mas Dani hanya terlalu pintar mencari muka di hadapan keluarganya, sampai-sampai mereka tetap menilai mas Dani adalah lelaki ningrat berdarah biru, keturunan Wongsodirodjo yang suci tanpa dosa. Mas Dani terlalu lihai bermanis bibir, sehingga orang menilai aku dan Sigit yang penuh cela.

Aku selalu diam. Selalu menerima semuanya.

Jam menunjukkan pukul sembilan. Sejam lagi, tamu mulai berdatangan. Masakanku sudah siap. Sepanci besar gulai hanya tinggal dihidangkan. Rasanya sudah pas, takaran bumbu juga sesuai. Kali ini, keluarga besar mas Dani pasti memujiku.

Takkan ada celaan yang berarti, hanya karena suamiku tidak muncul di hadapan mereka. Mas Dani memang tidak muncul, tapi dia ada.

Lewat masakan gulai daging yang pasti akan mereka makan dengan lahap. Daging mas Dani yang sudah kumutilasi.

Jamuan yang baik, bukan?

Sudah kusisihkan semangkuk, dengan bola mata mas Dani di dalamnya, untuk nanti kunikmati sendiri. Mata yang kulihat sering ada bayangan perempuan sintal nan menor.

Tidak. Kali ini, aku tidak ingin diam. Tidak ingin menerima semuanya.

_____
11.09.2016
*499 kata, tanpa judul dan catatan kaki

Komentar

  1. Tapi enakan jadi rondhe di wedhang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. *kemudian muntah*
      *baru aja makan ronde sebelum nulis* 😮

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer